Oktober 28, 2009

Bencana Alam dan Nahyi Mungkar

Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (QS. Hud: 116)
Bangsa kita sudah akrab dengan bencana. Mulai dari gunung meletus, gempa bumi, banjir besar, tsunami, kebakaran hutan atau bahkan kedatangan Miyabi! Bencana alam yang menimpa negeri kita saat ini disikapi dengan beragam pendapat. Yang paling umum adalah bencana ini dianggap sebagai teguran dari Allah SWT terhadap makluk2nya yang lalai.
Mengapa kita selalu dirudung bencana? Prasyarat apa yang harus dipenuhi suatu kaum/bangsa agar bencana itu datang menghampiri? Benarkah bencana itu datang karena di suatu negeri itu terdapat banyak golongan yang ingkar, dan tidak ada satu pun orang yang ”baik-baik” ?
Sebenarnya negeri ini ditimpa bencana bukan karena tidak adanya orang-orang yang sholeh, melainkan karena banyaknya orang-orang sholeh yang memiliki kelebihan/keutamaan tetapi tidak ada yang mencegah kemungkaran. Inilah penyebab yang bisa kita lihat dari ayat di atas.
Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang diselamatkan Allah adalah mereka yang memiliki keutamaan dan mencegah kemungkaran masyarakatnya. Dan jumlahnya sangat sedikit. Makanya Allah bertanya: mengapa tidak ada?
Jika seseorang yang memiliki keutamaan, baik itu kekuasaan, ilmu, pengaruh sosial, intelektual yang tinggi, kekuatan fisik yang tangguh, tidak mampu mencegah suatu kemungkaran yang ada di depan matanya, sementara sebenarnya ia mampu, maka prasyarat turunnya bencana sudah terpenuhi. Tidak heran bila kita ingin mempengaruhi seseorang atau mencegah kemungkaran maka kita harus memiliki keutamaan. Seorang pelajar yang sholeh yang pernah menjuarai Olimpiade Sains tingkat nasional, ketika menasehati temannya yang tidak pernah sholat tentu lebih masuk ketimbang kalau pelajar tersebut tidak punya prestasi apa-apa. Seorang Gubernur atau kepala daerah tentu mempunyai kekuasaan untuk menutup tempat-tempat prostitusi ketimbang aktivis dakwah yang tidak memiliki jabatan apapun di pemerintahan. Seorang ahli beladiri yang berhasil menaklukkan penjahat dan menasehatinya untuk bertaubat lebih ”kena” ketimbang korban kejahatan yang menasehati perampoknya.
Dari surah Hud (11) terdapat banyak sekali hikmah tentang mengapa kaum para Nabiyullah menolak dakwah utusan Allah tersebut. Misalnya kaum Nabi Nuh yang menolak dakwah beliau karena pengikutnya Nabi Nuh adalah orang-orang yang lebih rendah status sosialnya, yang mudah percaya, dan Nabi Nuh sendiri dianggap tidak memiliki kelebihan apapun (ayat 27). Nabi Syuaib ditolak oleh kaumnya karena beliau dianggap adalah orang yang lemah di antara mereka dan dianggap tidak punya wibawa (ayat 91).
Intinya adalah keutamaan. Siapapun yang memiliki keutamaan bisa mencegah sebuah kemungkaran dalam skala apapun. Jika tidak melakukannya, maka bencana hanya menunggu waktu. Wallahu’alam.

Muhammad Zulkifli

Oktober 21, 2009

Mengapa Harus Dengki?

Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya.” (QS. Ali Imran: 120)
Saya hanya tersenyum geli dan merasa senang melihat Taufik Kiemas memimpin sidang MPR kemarin. Pendapat bahwa sidang kemarin sangat lucu dan memalukan, saya setuju sekali. Baru kali ini dalam sejarah bangsa Indonesia, sidang yang dihadiri para pejabat, mantan pejabat serta tamu negara sahabat terlihat unik dan menggelitik. Betapa kualitas seseorang itu terlihat jelas ketika ia mendapat sebuah jabatan, apalagi kalau sebelumnya jabatan itu dia yang minta. Ketika akhirnya dia tidak bisa mengemban amanat tersebut, masyarakat langsung menilai apatis, bahkan menertawakan.
Sebelum masuk ke ruang sidang, seperti yang diberitakan detik.com, Taufik Kiemas tampak penuh percaya diri. Jabatan bergengsi yang ia sandang barangkali menjadi alasan mengapa ia harus percaya diri. Dan barulah ketika sidang dimulai, rasa percaya diri itu lama kelamaan agak pudar. Kesalahan dalam penyebutan beberapa nama menyebabkan intonasinya menurun dan kurang jelas mengucapkannya. Para anggota MPR tertawa. Inilah sidang pertama dalam sejarah republik ini yang tidak khidmat dan tidak sakral.
Saya lalu menemukan diskusi mengenai hal itu di forum detik.com. Saya tertawa sendiri membaca komentar-komentar para netter yang memojokkan Taufik Kiemas. Ada perasaan puas di hati saya bahwa terbukti jelas kalau ia tidak cocok menduduki jabatan tersebut, dan orang-orang yang telah memilihnya harus bertanggung-jawab secara moral kepada publik. Kata-kata sindiran hingga kasar yang ada di forum tersebut makin memantapkan hati saya untuk terus menertawakan nasibnya. Gembira, senang, puas, barangkali itulah perasaan saya saat itu.
Hingga akhirnya saya tersadar dan beristighfar. Astaghfirullah! Hati saya ternyata ada penyakit dengki! Masya Allah! Kenapa saya tidak sadar ?!Kenapa saya tertawa melihat orang lain ditertawakan? Kenapa saya merasa senang melihat orang lain dicaci maki? Kenapa saya malah ikut-ikutan mengomentari kesalahannya bersama teman2 kantor? Kenapa saya memperlakukannya seperti memperlakukan seseorang yang pantas dihina? Kenapa saya tidak mendoakan saja ia agar nanti tidak mengulang kesalahan yang sama, daripada ikut mencaci? Bukankah saya sendiri tidak luput dari kesalahan? Bukankah dalam konteks yang lebih sederhana saya pun juga pernah melakukan kealpaan seperti yang ia lakukan? Mengapa saya berpikir saya adalah manusia sempurna sehingga pantas untuk menilai kekurangan orang lain? Apakah di mata Allah saya lebih mulia daripada beliau? Betapa mengerikannya penyakit ini!
Segera saya beristighfar panjang. Percuma saja saya sholat tahajud, bersedekah, naik haji, puasa, tilawah kalau di hati saya ada penyakit dengki. Jelas Rasulullah saw sudah bersabda bahwa penyakit dengki itu membakar amal kebajikan seperti api yang membakar arang! Masya Allah!
Tidak sepantasnya kita menertawakan orang lain, sebab belum tentu kita lebih mulia dalam pandangan Allah SWT dibanding orang yang kita tertawakan itu. Semoga Allah membimbing saya dan kita semua selalu menyucikan hati dari penyakit dengki. Senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang. Wallahu’alam.

Muhammad Zulkifli

Oktober 05, 2009

Maafkan saja!


Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan ana-kanakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS.64:14)


Seorang pemuda yang baru menjadi sarjana mendapat modal dari orang tuanya untuk memulai bisnis apapun yang ia sukai. Karena niat anak muda ini kalau lulus kuliah adalah berbisnis dan tidak mencari kerja, maka ia pun mulai berinvestasi pada orang lain dengan modalnya. Ia menanam uangnya pada usaha jual beli handphone bekas pada temannya dan usaha pembuatan roti yang dikelola oleh sepasang suami-istri di Bandung. Selain itu, dengan sisa uangnya ia pun berinvestasi pada usaha sembako yang dijalankan sebuah UKM. Dan apa yang terjadi selama beberapa bulan kemudian adalah mimpi buruk bagi pemuda yang malang ini. Semua orang yang ia percayai ternyata penipu! Uang investasinya di bisnis handphone bekas dilarikan sampai ke Jawa Tengah, sedangkan suami istri pengusaha roti itu pun kabur dari rumah kontrakannya. Sementara UKM penjual sembako mengalami crash dan kesulitan membayar hutang piutangnya. Total kerugian mencapai kurang lebih 10 juta rupiah (jumlah yang besar bagi pebisnis awam seperti dirinya). Ia benar-benar dendam kepada orang-orang yang sudah menipunya itu. Meski temannya yang menjalankan bisnis handphone itu mengembalikan sebagian modalnya (tentu setelah didesak dan diancam), tetap saja ia kehilangan 6 juta dari dua usaha lainnya. Tidur pun jadi tidak nyenyak. Keluarganya yang tadinya hidup berkecukupan, kini mulai serba kekurangan. Harapannya untuk tidak mencari kerja setelah lulus kuliah pun pudar. Akhirnya ia terpaksa mencari kerja untuk membantu menghidupi keluarganya. Kemarahan pada para penipu itu membuat pemuda ini lupa, bahwa rejeki itu Allah Yang Mengatur. Sekalipun seluruh makhluk berusaha menghalangi rezeki yang hendak Allah berikan pada hambaNya, karuniaNya tetap akan sampai. Inilah yang mungkin menyadari pemuda tersebut.

Lalu, sambil bekerja di perusahaan orang lain, ia berusaha memaafkan penipu-penipu ini dengan mendoakan kebaikan pada mereka. Ia berusaha ikhlas memaafkan kesalahan orang-orang tersebut sambil berharap agar Allah berkenan memberikan hidayah pada mereka. Dan apa yang terjadi? Kurang lebih 1 tahun setelah kejadian itu, keluarganya mendapat rezeki sebesar 107 juta rupiah dari hasil penjualan rumah warisan eyangnya! Padahal sebelumnya, rumah itu sulit sekali dijual karena dikuasai oleh pihak lain. Inilah salah satu bukti bahwa kalau kita mau memaafkan kesalahan orang lain, maka Allah pun akan membukakan pintu rezeki buat kita.

Selain bisa menjadi alat penggugur dosa, sifat pemaaf juga sangat baik terhadap kesehatan fisik. Berikut kutipan dari situs http://hidayatullah.com/rrharunyahya/ramadan_2.html yang menunjukkan
bagaimana sifat pemaaf berpengaruh terhadap jasmani manusia.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.


Adi W Gunawan, salah seorang ahli hipnotherapy di Indonesia bercerita dalam situsnya www.adiwgunawan.com bahwa ia mempunyai seorang teman yang seolah-olah segala keinginannya begitu mudah tercapai bahkan tanpa harus berdoa mati-matian. Di satu sisi ia pun melihat bahwa banyak orang yang sudah berdoa demikian rutin namun cita-citanya tidak mudah tercapai. Apa yang membuatnya berbeda dalam hal ini? Ternyata temannya ini sudah 10 tahun tidak pernah marah. Dia telah memaafkan orang lain dan berusaha terus memaafkan siapa pun yang telah menyakitinya. Inilah yang menjadi kunci sederhana bila ingin doa kita dikabulkan.
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa memaafkan orang lain adalah sehat dan bikin kaya! Wallahu'alam.

Muhammad Zulkifli

Juni 14, 2009

Iman yang Menggerakkan

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. 3:57)
Saat Shubuh tiba, biasanya saya langsung bangun untuk segera bersiap-siap ke masjid di kompleks tempat saya tinggal. Tapi entah kenapa, pada hari Senin itu, meski sudah memasang alarm pukul 4.30 pagi, saya terbangun untuk sekedar mematikan bunyi alarm. Setelah itu saya melanjutkan aktivitas memeluk guling dan memejamkan mata, menunggu sekitar 15 menit yang ‘sangat bernilai’ untuk kembali tertidur. Adzan Shubuh yang berkumandang dari speaker masjid tak membuat kaki saya segera bangun dan melangkah ke masjid yang tidak jauh dari rumah. Saya memilih untuk sholat di rumah saja. Dan akhirnya saya baru sholat sekitar pukul 05.10 pagi. Astaghfirullah.
Iman adalah karunia Allah SWT yang mahal. Begitu banyak orang yang tidak memiliki iman di hatinya. Mereka lebih memilih jadi atheis atau aliran kepercayaan lain dalam menjalankan spiritualitasnya. Tapi kita tidak seperti itu. Kita sholat, puasa, zakat dan sebagainya karena kita tahu bahwa Sang Pemilik Kerajaan langit dan bumi inilah yang memerintahkannya. Hanya saja, dari sekian banyak orang yang beriman, hanya sedikit mereka yang memiliki kualitas iman yang bisa menggerakkan.
Saat saya terbangun karena alarm, iman saya mengatakan bahwa sholat Shubuh berjamaah di masjid sangat diutamakan. Iman saya juga mengingatkan bahwa ciri orang munafik adalah meninggalkan sholat Shubuh dan Isya jamaah di masjid. Ketika saya mendengar adzan, saya pun dengan penuh kesadaran hati menyadari bahwa ini adalah panggilan Allah, panggilan seorang ’Tuan’ terhadap hambaNya. Iman saya juga tahu kalau seandainya saya tahu apa yang akan saya peroleh dengan sholat berjamaah di masjid, pasti saya akan bela-belain datang ke masjid meski harus merangkak. Tapi iman saya hanya sebatas pengetahuan. Iman saya belum sampai pada tahap menggerakkan.
Tidak heran bila dalam banyak ayat Al-Qur’an, kata ’iman’ selalu diiringi ’amal saleh’. Iman tanpa amal saleh tidak akan diterima, sama seperti amal tanpa iman. Iman yang melahirkan amal saleh adalah iman yang menggerakkan. Iman yang tidak membuat pemiliknya beramal adalah iman yang sekarat.
Kita memang belum memiliki iman sekelas Mushab bin Umair, yang imannya menggerakkan ia untuk meninggalkan kemewahan hidup dan bergabung dengan barisan pasukan muslim. Iman kita belum sederajat dengan imannya Barra bin Malik yang menggerakkan ia untuk mau dilempar ke benteng musuh agar pasukan muslim bisa masuk ke dalamnya. Iman kita juga belum selevel dengan imannya Zubair bin Awwam yang tak bergeming meski disiksa pamannya karena masuk Islam. Dan iman kita juga masih kalah dengan imannya Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, Usamah bin Zaid, Zaid bin Arqam, Barra bin Azib, Amr bin Hizam, Usaid bin Zhuhair, Urabah bin Aus, Abu Sa'id al Khudri, Samurah bin Jundub dan Rafi' bin Khadij, yang saat masih anak-anak pun sudah tergerak untuk pergi berjihad dan menangis karena dilarang Rasulullah saw.
Iman kita masih taraf ”ecek-ecek”. Tapi bukan tidak mungkin nanti kualitas keimanan kita bisa setaraf dengan mereka. Untuk mencapai tahap itu, mulailah dari yang kecil-kecil dulu. Khusus buat saya, mungkin bisa dimulai dengan memaksakan diri bangun untuk berangkat ke masjid untuk berjamaah Shubuh, meski kantuk tak tertahankan. Wallahu’alam.

Muhammad Zulkifli 

Juni 07, 2009

Berapa kali kita beristighfar?


Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. (QS. An-Nisa:111)
Istighfar berasal dari kata ghofara yang artinya tutup. Bila ditambah alif dan sin, maka maknanya jadi: minta ditutupi. Apa yang harus ditutupi? Dampak dari dosa-dosa yang kita perbuat. Setiap dosa pasti punya akibat, dan untuk menghindari akibat buruknya kita dianjurkan untuk beristighfar. Memohon ampun kepada Allah SWT agar dosa-dosa tersebut tidak berefek negatif dalam kehidupan kita.
Selain menghindari akibat buruk dosa, istighfar juga berdampak positif seperti memperbanyak harta, memperbanyak anak, menurunkan rezeki atau hujan dari langit dan sebagainya. Kisah-kisah Nabi Nuh, Hud, Syu’aib dan lainnya mengajarkan pada kita bahwa memohon ampun kepada Allah adalah bentuk lain dari “ikhitar langit”, yaitu bagaimana menjemput rezeki dan mempermudah terkabulnya hajat setelah “ikhitar dunia” telah dimaksimalkan.
Berapa kali kita harus beristighfar dalam satu hari? Rasulullah saw dalam salah satu hadistnya mengatakan bahwa beliau beristighfar 70 kali per hari. Di hadist lain ada yang menyebutkan 100 kali per hari. Kita anggap saja angka yang paling maksimal, yaitu Rasulullah memohon ampun pada Allah sehari 100 kali.
Bagaimana dengan kita? Nabi Muhammad adalah manusia suci dan yang disucikan oleh Allah. Meski demikian, beliau tetap memohon ampun kepada Allah. Dengan perhitungan seperti ini, kita mencoba melihat diri kita sendiri. Kira-kira, berapa persenkah kualitas iman, kualitas akhlak dan kualitas ibadah kita dari Rasulullah saw? Jika kita ambil angka 50% atau setengah dari kualitas Rasulullah, maka seharusnya kita beristighfar 200 kali perhari. Tapi apa iya kualitas iman, akhlak dan ibadah kita hanya beda setengah dari Rasulullah? Rasanya terlalu sombong. Sholat kita saja jarang khusyu’, sama orang lain masih sering kasar, dan terkadang kita juga suka males berdoa kepada Allah kalau tidak dikabul-kabulkan.
Baiklah, mari kita ambil asumsi bahwa kualitas kita adalah seperempat dari kualitas Rasulullah. Artinya, dalam sehari kita harus beristighfar 400 kali! Sanggup?
Sekali lagi, benarkah kualitas kita hanya berbeda seperempat dari kualitas Rasulullah? Coba ingat-ingat lagi dosa kita. Rasulullah dalam sehari-hari berbicara benar atau diam. Sedangkan kita terlalu banyak bicara dan jarang benarnya. Selain itu, beliau suka bersedekah dan sedekahnya tidak tanggung-tanggung. Sedangkan kita, selalu nanggung dalam bersedekah. Nabi Muhammad kalau marah juga hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan pelecehan akidah. Kalau kita marah selalu berkaitan dengan hal-hal pelecehan pribadi. Kalau sudah begitu, masihkah kita beranggapan bahwa kualitas kita hanya seperempat kualitas Rasulullah?
Jangan-jangan kualitas ibadah, keimanan dan akhlak kita hanya seperdelapannya Rasulullah. Kalau begitu, kita harus beristighfar 800 kali perhari! Atau jangan-jangan hanya sepereenambelas, sepertigapuluh dua, atau seperenampuluhempat! Masya Allah, kita harus beristighfar 6400 kali perhari! Apakah kita sanggup?
Saat ini, saya berusaha konsisten/istiqomah untuk beristighfar 500-1000 kali perhari. Itu juga masih bolong-bolong. Bagaimana dengan Anda?

Muhammad Zulkifli

Untung Kita Dapat Hidayah...


…..tetapi Allah –lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (QS.Al-Baqarah: 272)
Seorang teman yang hobi minum bir menceritakan kisah ini pada saya. Suatu hari, tepatnya pada malam tahun baru, seperti biasa dia merayakannya dengan pesta minuman keras bersama rekan-rekannya sesama kru sebuah stasiun televisi swasta. Teman saya ini memang peminum berat, meski jarang mabuk. Ketika ada acara kantor, dimana stasiun TV tempatnya bekerja diundang untuk meliput, ia selalu berusaha mencari kafe yang menjual minuman keras. Dan itu menjadi kebiasannya sejak dulu.
Ketika ia akan menikmati malam tahun baru 2008, baru saja ia membuka tutup botol vodka miliknya, tiba-tiba ada SMS masuk dari istrinya. Isinya: Ayah, cepat pulang, anak kita sakit. Teman saya ini pun tidak jadi menikmati vodkanya. Segera ia ke rumah sakit untuk melihat kondisi anaknya. Setiba disana, tiba-tiba muncul penyesalan dari hatinya. Kenapa ia bersenang-senang di saat anaknya menderita? Hatinya terenyuh. Sejak saat itu ia berjanji untuk tidak minum minuman keras lagi. Dan ibadahnya kini semakin rutin dan rajin.
Sesederhana itukah seseorang berubah? Iya, mungkin saja! Dan sejak peristiwa itu, tak sekalipun teman saya ini meninggalkan sholat wajib. Padahal dalam 2 tahun terakhir sejak saya bekerjasama dengannya, tidak pernah sekalipun saya melihatnya sholat. Sekarang malah dia yang mengajak teman-temannya untuk sholat. Subhanallah..
Hidayah memang rahasia Allah SWT. Begitu banyak orang yang berteman, bahkan bersahabat dengan orang sholeh, tapi dia tidak ikutan sholeh. Sebaliknya, ada yang berteman dengan pemabuk, malah dapat hidayah. Bersekolah di perguruan tinggi Amerika, gudangnya hedonis, malah keislamannya makin mantap. Bahkan ada juga yang sudah muslim sejak lahir tapi sering mempraktekan perbuatan syirik.
Di Pelabuhan Ratu misalnya, ada upacara tahunan yang bernama Pesta Nelayan. Upacara ini berupa pelepasan sesajen kepala kerbau dan nasi tumpeng yang dipersembahkan kepada Nyi Riri Kidul. Uniknya, pelepasan sesajen ini dilakukan oleh seorang wanita yang didandani dengan kebaya warna hijau, karena Nyi Roro Kidul suka warna itu. Untuk mendapatkan yang cantik biasanya panitia pesta menggelar kontes kecantikan setingkat SMU.
Di Surakarta, Solo, warga rela datang jauh-jauh dan berebut air kencing dan kotoran “Si Bule”. Siapa itu “Si Bule”? Yaitu kerbau bule keturunan kerbau Kyai Slamet yang dianggap punya “keberkahan”. Selain itu, di Wonogiri ada acara jamasan, atau pencucian benda-benda pusaka milik Kasunanan di waduk Gajah Mungkur. Anehnya, air sisa cucian itu diperebutkan banyak orang karena dipercaya mengandung banyak khasiat.
Budaya-budaya di atas dilakukan mayoritas oleh umat Islam yang keimanannya dipertanyakan. Tapi memang hidayah adalah urusan Allah. Karena itulah dalam surah Al-Baqarah di atas Allah SWT sudah mengatakan bahwa hidayah adalah hak preogatifNya. Banyak memang yang rajin ke masjid, tapi yang mabuk juga banyak. Banyak memang laki-laki yang setia pada istrinya, tapi laki-laki yang berselingkuh dan berzina pun tidak sedikit. Banyak memang yang tidak suka mengambil harta orang lain, tapi yang korupsi pun juga banyak.Dunia ini penuh dengan orang-orang yang baik, sebagaimana dunia ini juga penuh dengan orang-orang yang tidak baik.
Karena itulah judul tulisan ini mengajak kita untuk bersyukur. Ya, kita adalah salah satu yang mendapat hidayah Allah untuk selalu menghindari dosa dan perbuatan buruk, serta selalu termotivasi untuk berbuat kebaikan. Sholat kita tidak bermasalah, secara akidah kita tidak terjerumus dalam syirik, tauhid kita murni, maka patutlah kita mengatakan: Untung saya dapat hidayah. Karena itu berarti Allah SWT menganggap kita memang pantas mendapat hidayahNya. Wallahu’alam.

Muhammad Zulkifli 

Juni 04, 2009

Demokrasi, bagian dari muammalah?

Dalam sebuah acara Tasqif Dirosah Islamiyah yang dibawakan oleh Ustad Muhammad Arifin di masjid Peruri Karawang, saya mendapat sebuah pemahaman baru mengenai hal-hal yang kontemporer. Menurut beliau, ibadah itu terbagi 2, yaitu ibadah maghdoh dan ghoiru maghdoh. Ibadah maghdoh adalah semua ibadah yang hukumnya haram sampai ada ayat yang memerintahkannya. Contohnya sholat, puasa, haji dan sebagainya. Jika tidak ada dalil yang memerintahkan kita untuk mengerjakannya, maka status ibadah yang kita lakukan itu adalah haram. Sebaliknya, ibadah ghoiru-maghdoh atau muamalah adalah semua kegiatan yang diperbolehkan sampai ada dalil yang melarangnya.
Seseorang bertanya kepada Pak Ustad, partai dan demokrasi adalah sesuatu yang tidak ada di zaman Rasulullah, oleh karena itu dikategorikan bid’ah. Bahkan haram! Lalu mengapa Pak Ustad terlibat dalam salah satu partai politik Islam?
Pak Ustad balik menjelaskan, bahwa jangankan partai, bahkan pesantren, bank syariah, organisasi seperti NU dan Muhammadiyah pun tidak ada di zaman Nabi. Kalau begitu, semuanya haram dong?
Tidak ada satu pun dalil, menurut Pak Ustad, yang melarang pembentukan partai. Dan tidak ada satu pun ayat dan hadist yang menjelaskan bahwa demokrasi itu haram. Jadi partai dan demokrasi hukumnya mubah. Tapi bukankah demokrasi, menurut si penanya tadi, adalah sistem jahiliyah?
Dalam sepenggal siroh Rasulullah saw, ketika beliau dan Zaid bin Haritsah diusir dari Thoif, beliau punya rencana untuk balik lagi ke Makkah dan kembali berdakwah. Namun hal tersebut mustahil karena penduduk Makkah sudah sepakat mengusir mereka. Lalu Rasulullah pun teringat bahwa di Makkah ada undang-undang atau kesepakatan bersama antara kabilah-kabilah, bahwa bila ada yang minta perlindungan pada salah satu kabilah, maka kabilah lain wajib juga melindunginya. Lalu beliau meminta Zaid bin Haritsah untuk datang ke Makkah malam-malam dan mulai melobi pemimpin kabilah untuk minta perlindungan. Dan akhirnya Mut’am bin Ali, salah satu pemimpin dari kabilah di Makkah setuju untuk melindungi Muhammad dan Zaid. Akhirnya Rasulullah kembali ke Makkah dan berdakwah serta dilindungi oleh kabilahnya Mut’am bin Ali.
Dari kisah di atas, ternyata Rasulullah saw memanfaatkan hukum/peraturan jahiliyah untuk kepentingan dakwah. Demokrasi adalah bagian dari muamalah. Bila demokrasi itu jahiliyah, mengapa tidak kita manfaatkan saja untuk kepentingam dakwah? Ketimbang membiarkan orang-orang yang tidak punya komitmen dakwah yang memimpin negeri ini, lebih baik negara ini dikendalikan oleh tangan-tangan yang sering basah oleh air wudhu.
Inilah sepotong ilmu yang saya dapatkan dari pengajian Ahad lalu. Sangat menarik buat saya yang memang buta politik. Wallahu’alam.

Muhammad Zulkifli