Desember 02, 2009

Rezeki Tidak Kemana-Mana


Rezeki memang rahasia Allah. Tapi semoga apa yang saya alami ini bisa menambah ibroh bagi pembaca semua.

Ketika kami selesai melakukan wukuf di Arafah, malamnya kami santai-santai di dalam tenda sambil nunggu bus jemputan yang akan mengangkut ke Muzdalifah. Sambil menunggu, saya tidur-tiduran karena memang tidak ada aktivitas yang berarti. Di dalam tenda tidak ada lampu/petromax sehingga kami tidak bisa tilawah atau membaca buku. Sementara jamaah lain ada yang memilih ngobrol satu sama lain.

Tidak lama kemudian datang seorang Arab (seingat saya dia bukan petugas haji) membawa gerobak berisi berkotak-kotak makanan ringan/cemilan. Spontan semuanya pada menghampiri orang tersebut dan berebut mengambilnya, termasuk saya. Namun “malang” bagi saya, kotak tersebut keburu habis. Padahal dilihat dari kemasannya yang besar serta ekslusif, saya menerka kalau makanan ringan yang diberikan secara gratis tersebut pasti mahal dan enak. Tapi saya berpikir mungkin ini bukan rezeki saya. Apalagi selain kami, jamaah lain di tenda-tenda tetangga juga pada berebutan. Otomatis kecil kemungkinan bagi saya untuk mendapatkannya.

Saya memilih rebahan lagi dipinggir tenda sambil menatap langit Arafah. Tidak lama saya rebahan, tiba-tiba datang orang Arab lainnya membawa gerobak baru yang berisi penuh dengan berkotak-kotak makanan ringan tadi, berhenti dan menjatuhkannya persis di samping saya! Saya kaget! Di saat orang lain berebutan, saya dengan mudahnya mendapatkannya dan bukan hanya satu, tapi berkotak-kotak! Segera saya ambil 3 kotak, 1 untuk saya dan 2 lagi untuk orang tua. Jamaah lainnya ikut mengambil di samping saya.

Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel bagus dari Ustad Yusuf Mansur. Kata beliau, kalau dunia mau datang kepada kita, sikap kita adalah pura-pura tidak mau menerimanya. Kalau sikap kita mengejar-ngejar dunia, maka dunia akan lari dari kita. Erbe Sentanu, pelopor Quantum Ikhlas juga menyebutkan, kalau kita mengikhlaskan keinginan kita, insya Allah keinginan tersebut akan cepat tercapai ketimbang kita ngotot mengejar keinginan tersebut. Wallahu’alam.

Muhammad Zulkifli

November 23, 2009

Pengemis = Preman?

Diriwayatkan dari az-Zubair bin al-‘Awwâm Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيْعَهَا فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوْهُ.

"Sungguh, seseorang dari kalian mengambil talinya lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, kemudian ia menjualnya sehingga dengannya Allah menjaga wajahnya (kehormatannya), itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, mereka memberinya atau tidak memberinya".

Sudah menjadi kebiasaan di Indonesia, ketika bulan Ramadhan tiba jalan-jalan penuh dengan peminta-minta. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu muda yang gendong bayi, nenek-nenek, bapak-bapak yang renta, sampai mereka yang cacat fisiknya. Entah siapa yang mengkoordinir, tiba-tiba mereka muncul di tengah-tengah kita, tersebar di berbagai titik dan berkumpul di dekat masjid serta lampu merah.

Saya tidak menyangka juga kalau ternyata budaya mengemis ini ’diimport’ oleh masyarakat Arab Saudi dari kita. Menjelang musim haji begitu banyak pengemis berkeliaran di sekitar masjid Nabawi dan Makkah. Pengemis di Makkah lebih banyak daripada di Madinah. Sepanjang jalan saya menuju Masjidil Haram dari maktab, berbagai ”jenis” pengemis tampil di sana, mulai dari yang tidak punya kaki, tidak punya tangan, tidak punya kaki dan tangan, dan ada juga yang lengkap anggota tubuhnya tapi mengejar-ngejar jamaah untuk minta duit. Selain itu, kalau pengemis Indonesia ’malu-malu’ menunjukan uang yang ia dapatkan dari hasil ”kerjanya”, tapi pengemis di sana justru memamerkan tumpukan uang hasil pemberian jamaah yang ’kasihan’ padanya dengan terang-terangan. Dan uniknya lagi, kalau pengemis Indonesia menerima uang dengan sikap pasif, tapi kalau pengemis sana justru secara agresif merebut uang dari tangan jamaah yang mau memberi.

Pengemis di sana barangkali tahu kalau doktrin yang disuntikan kepada jamaah haji, khususnya dari Indonesia, adalah bila menemukan tukang minta-minta berikan sebagian uangmu. Doktrin ini sama seperti kalau bulan Ramadhan harus banyak-banyak bersedekah. Ini tidak salah, tapi sangat berlebihan. Budaya memberi tanpa pandang bulu ini ternyata menimbulkan sifat pemalas dan mental peminta di kalangan umat Islam. Sebab banyak dari masyarakat kita yang marginal secara sosial tapi mampu bertahan hidup dengan bekerja tanpa harus menjadi pengemis. Perhatikanlah secara seksama, banyak para pemulung yang ternyata sudah berumur sangat tua. Mereka memilih cara bertahan hidup dengan cara memulung, bukan mengemis. Lihat juga tukang sapu di jalalan, ternyata tidak sedikit yang wanita tua, yang seharusnya di umur seperti itu sudah bisa menikmati hidup dan bermain dengan cucu. Sekali-kali juga pandanglah tukang koran di lampu merah, selain anak kecil atau remaja, ternyata ada juga kakek-kakek di antara mereka. Semua ini menunjukkan bahwa mengemis itu adalah budaya, dan bukan karena dampak akibat ketidakadilan sosial.

Ketika saya sedang berada di Singapura, saya menemukan hal menarik lainnya berkaitan dengan mengemis. Ternyata di sana banyak orang tua yang sudah sangat sepuh bekerja di tempat-tempat yang ”kurang layak” untuk orang seumuran mereka, misalnya sebagai penjaga toilet umum, sopir taksi, pelayan restoran, bahkan cleaning service di mal. Pemerintahnya (dan mungkin juga rakyatnya) telah berhasil membangun mental kemandirian, bahwa umur dan kekurangan tidak bisa dijadikan alasan untuk menjadi tukang minta-minta.

Umat Islam perlu membangun mental kemandirian ini, karena Rasulullah saw sudah mewanti-wantinya 1400 tahun yang lalu. Sebab mental meminta itu bisa bergeser menjadi mental pemalak. Seperti pengalaman saya ketika dikejar lima orang pengemis gara-gara saya memberi salah satu dari mereka uang sebesar 1 Real, dan teman-temannya mengejar saya untuk ”minta jatah” yang sama. Saya baru ”selamat” dari pengejaran ini setelah masuk ke wartel, dan kelima pengemis itu diusir oleh pemilik wartel. Ternyata di Tanah Suci, perbedaan antara pengemis dan preman di sana sedemikian tipis. Hanya mungkin profesi preman di sana tidak pernah mendapat ”status” dari masyarakat. Wallahu’alam.

Muhammad Zulkifli

November 17, 2009

Utamakan Akhlak dibanding Fikih


Alhamdulillah, di tahun 2002 saya dan kedua orang tua mendapat rezeki dari Allah SWT untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Suka duka dan sepenggal hikmah telah saya dapatkan selama 40 hari di sana, dan khusus menyambut Idul Adha saya akan menulis tentang apa dan bagaimana proses saya selama menjalani ibadah. Insya Allah bukan untuk riya atau pamer, tapi sekedar berbagi ilmu dan berbagi solusi.

Sekitar enam bulan sebelum berangkat, saya dan jamaah lainnya ikut dalam pelatihan manasik haji yang diselenggarakan oleh Departemen Agama Kanwil Bandung. Setiap hari Ahad kami datang untuk belajar dan menghafal doa. Di situ juga ketua rombongan dan ketua regu disusun agar mempermudah koordinasi nantinya di sana. Saya sendiri terpilih sebagai ketua regu dari rombongan 4 Kloter 6.

Sebenarnya tidak ada yang keliru dari proses manasik ini. Kami diberi buku panduan, diajarkan cara melafadkan doa-doa, diceritakan tentang kondisi di sana, dan apa saja yang harus dipersiapkan. Berminggu-minggu kami dijejali ilmu tentang ”apa yang harus kami baca ketika melakukan apa”. Istilahnya, fokus kami adalah bagaimana rukun haji dan doa-doanya sudah kami hafal ketika sampai di sana nanti.

Sejujurnya karena itu pengalaman pertama, saya belum melihat ada sesuatu yang perlu dibenahi dari pelatihan ini. Namun saya baru menyadari apa yang belum ada dalam penyelenggaraan manasik ini ketika sudah berada di sana. Inilah inti pokok kenapa banyak jamaah haji yang pulang dari tanah suci prilaku dan perbuatan buruknya tidak berubah.

Bermula ketika seorang Ustadz (yang ditunjuk oleh Depag sebagai pembimbing rohani jamaah Kloter saya) membagi-bagikan makan siang di maktab. Wajahnya yang tidak ramah dan merengut (mungkin karena capek) berkata ketus kepada seorang jamaah yang jauh lebih tua darinya ketika jamaah tersebut bertanya dengan sopan: boleh ga kalau makanan ini diambil setelah selesai sholat. Dengan ketus ia berkata,” Tidak! Tidak bisa!”. Jamaah tersebut itupun berlalu tanpa berminat mau mengambil jatah makannya, terlanjur kesal dengan jawaban si Ustadz.

Di kamar maktab, seorang ibu-ibu mengungsi ke kamar kami karena teman satu kamarnya masak di dalam kamar sehingga asapnya mengganggu pernafasan dia. Di Padang Arafah, yang seharusnya dijadikan tempat merenung dan bertafakur, malah oleh sebagian jamaah ibu-ibu dijadikan tempat untuk menggunjingi temannya yang lain. Di Muzdalifah, gantian bapak-bapaknya yang menggunjingi ketua rombongan karena tidak puas dengan kepemimpinan beliau.

Pulang dari ibadah haji, uang urunan para jamaah yang masih tersisa banyak tidak dikembalikan oleh ketua rombongan dan bendahara. Alasannya mau dipakai untuk acara-acara kebersamaan. Namun hingga tiga tahun sejak 2002,  uang itu pun tidak dikembalikan oleh ketua dan bendahara kami. Salah satu jamaah menagih terus menerus karena ia lagi membutuhkan uang, dan akhirnya dikembalikan dalam keadaan tidak utuh.

Apa masalah dari semua ini? Aklak! Ini yang tidak diajarkan dalam manasik haji yang kami ikuti. Manasik itu hanya fokus pada masalah fiqh, tata cara, rukun, dan hal teknis lainnya. Bukannya tidak penting, namun jika tidak diimbangi dengan pembelajaran dan persiapan akhlak, maka semua ibadah itu akan terasa kering. Apakah kita merasa bahagia ketika mulut ini mampu mencium Hajar Aswad, tetapi mulut ini juga suka menebar aib orang lain? Apakah kita merasa sudah mabrur, ketika tangan ini sering memegang Raudhoh, tapi tangan ini juga yang menahan hak orang lain? Apakah ibadah kita diterima, ketika masih banyak orang yang merasa dirugikan oleh perbuatan tangan dan lisan kita?

Ibadah haji adalah ibadah akhlak, bukan sekedar ibadah fikih. Wallahu’alam.

Muhammad Zulkifli

November 04, 2009

Dai Bis Kota



Sesungguhnya Allah memiliki karunia kepada manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS.Al-Baqarah:243)

Pengamen yang saya lihat di bis patas AC jurusan Cikarang ini memang terlihat sedikit berbeda. Bukan secara fisik melainkan perilakunya. Setelah membawa beberapa lagu, tiba-tiba saja dia mendekati salah seorang perempuan muda dan menyanyikan lagu cinta dengan suara yang rendah, sambil menundukkan kepalanya mendekati wajah wanita itu. Penumpang tersebut tidak merespon, hanya duduk diam terpaku. Barangkali malu. Tapi si pengamen bukannya menghentikan aksi “norak”nya itu, malah semakin mendayu-dayu bernyanyi dan mendekati bibirnya ke wajah wanita itu. Lagu itu khusus ditujukan kepadanya. Entah apa alasan yang membuat dia berbuat seperti itu.

Setelah satu lagu selesai, kembali dia menghadap ke “hadirin” para penumpang bus dan mulai nyanyi dengan suara normal lagi. Entah disengaja atau tidak, gitarnya mengenai bahu wanita lain di sisi kirinya. Wanita tersebut protes, dan pengamen tersebut meminta maaf. Namun mungkin karena wanita itu sudah tidak simpati gara-gara aksi norak sebelumnya, ia malah ngedumel. Si pengamen masih berusaha minta maaf dan menjelaskan kalau ia tidak sengaja, namun wanita tersebut masih terus berbicara. Puncaknya, ia memaki wanita itu dengan satu kata kasar yang tak pantas saya sebut di sini. Sebuah kata yang merepresentasikan ke sosok ”wanita nakal”. Setelah itu bis jadi hening sambil tetap melaju di tol dalam kota.

”Orang seperti saya memang tidak pernah diharapkan,” ia memulai berorasi. “Saya yatim piatu sejak kecil, tidak makan sekolahan, tidak punya ijazah dan tidak punya pekerjaan. Saya akan turun dari bis ini, tapi tolong anda semua berikan saya pekerjaan.” Ia berjalan depan belakang sambil menengadahkan tangan, simbol meminta pekerjaan.

Saya mulai merenung. Logikanya masuk akal, meski validasi statemennya perlu dipertanyakan.

”Lihat baik-baik muka saya! Hafalkan! Nama saya Hari! Saya mangkal di Komdak. Kalau bapak ibu mau mencari saya silahkan cari disana!” tantangnya.

”Saya bersyukur bisa belajar main gitar, bisa mengamen. Ini adalah bentuk rasa syukur yang saya miliki. Sekarang, apa rasa syukur anda ketika melihat orang-orang seperti saya?”

Glek! Saya rasa saya tidak perlu mencari tahu lagi apakah ia benar-benar anak yatim, tidak pernah sekolah dan tidak punya ijazah. Kalau pun dia kenyataannya bukan anak yatim dan pernah sekolah, tapi kalimat terakhirnya benar-benar menyentak hati kecil saya dan mungkin orang-orang di bis itu. Betapa kita sering mengeluh tentang keadaan diri kita, ketika tidak punya uang, tekanan pekerjaan, sulitnya mendapat jodoh, banyak hutang, dikejar-kejar orang, dan lainnya. Padahal nasib kita jauuuuuh lebih baik dari pada orang-orang seperti pengamen ini. Betapa mereka harus bertahan hidup dengan bersempit-sempit menyanyi di bis kota, berjualan asongan, baca puisi di tengah berisiknya suara deru lalu lintas, berdangdut ria sambil bawa speaker dan mic, padahal hasil tidak seberapa. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang melakukan semua itu dalam keadaan lapar dan haus!

Tiba-tiba saya ingat salah seorang kenalan, bapak-bapak tua penjual koran di depan halte busway Komdak. Ketika saya tanya jam kerjanya, beliau menjawab, ”Jam 4 subuh saya sudah berdagang, dan baru pulang jam 10 malam.” Masya Allah! Dia sudah kerja ketika saya belum bangun, dan masih kerja ketika saya sudah tidur! Berapa penghasilannya? Jangan tanya. Sebab kalau penghasilannya besar, tentu ia tidak tidur di rumah papan yang berada di dalam pagar pembatas di depan mal Pasific Place.

Rasa syukur sudah hilang dalam diri kita, hanya karena Allah menguji kita dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan (QS.2:155). Seolah Allah tidak pernah memberikan apapun kepada kita sehingga kita merasa berhak untuk mengeluh.

Hari, si Pengamen itu sejatinya adalah dai dalam konteks ini. Dia menggugat rasa syukur yang telah hilang pada diri kami. Dan ’tausiyah’ nya sungguh kena. Setidaknya pada diri saya. Wallahu’alam.

Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahaan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir (QS.79:19-21)

Muhammad Zulkifli

November 02, 2009

Dahsyatnya Doa Anak Yatim

tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.Al-Baqarah:220)



Ketika saya masih aktif di Yayasan Himmata tahun 2006, yaitu sebuah yayasan sosial yang mengayomi dan menghidupi anak-anak jalanan di Jakarta, ada salah seorang istri menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu yang pertama datang ke daerah Plumpang, Jakarta Utara. Menemui pengurus yayasan, beliau kemudian meminta kepada kami untuk memanggil beberapa anak yang sudah tidak punya orang tua lagi dari kumpulan anak-anak jalanan yang diasuh untuk maju ke depan. Sebagai informasi tambahan, suami ibu ini adalah menteri salah satu departemen yang saat itu kinerjanya sangat buruk dalam penilaian masyarakat.
Ketika menteri tersebut memimpin departemennya, banyak kejadian-kejadian yang merugikan masyarakat. Karena itu muncul tuntutan publik agar menteri tersebut mengundurkan diri.
Singkat cerita, ibu ini minta didoakan oleh anak-anak yatim dari Yayasan Himmata agar suaminya diberi ketabahan, kelapangan dan keberhasilan dalam tanggung jawabnya saat ini. Tidak lupa sebagaimana orang-orang yang punya hajat, beliau pun menyisipkan bingkisan untuk mereka.
Kini suami ibu tersebut sudah tidak menjabat lagi sebagai menteri di departemen tersebut. Oleh Presiden SBY ia diberikan posisi strategis sebagai menteri koordinasi yang membawahi menteri-menteri lain yang membidangi masalah khusus.
Masih di tahun yang sama, salah seorang kerabat saya menderita tumor otak. Beliau koma hingga berhari-hari. Dokter pribadi yang biasa menangani bahkan sudah mengatakan tidak ada harapan lagi. Pihak keluarga masih mencoba mencari jalan keluar bagi kesembuhan beliau. Saya yang saat itu sempat melihat kondisi kerabat tersebut, berharap ada keajaiban yang datang dari Allah sehingga beliau bisa pulih dan sehat kembali. Dan saya melihat harapan itu dititipkan Allah melalui Yayasan Al-Aqsa, sebuah yayasan yatim piatu yang berlokasi di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saya mendatangi yayasan tersebut, menyedekahkan sejumlah uang dan meminta kepada pengurusnya agar nanti malam, ketika anak-anak asuh selesai sholat maghrib, saya mohon agar kerabat saya yang koma itu didoakan kesembuhannya. Sambil saya juga meminta pengurus Yayasan Himmata juga mendoakannya. Hasilnya, beliau tersadar dari koma, sembuh, dan kini sudah bisa berkumpul lagi bersama keluarga tercintanya. Anehnya, dokter pribadi yang mengklaim bahwa sudah tidak ada harapan lagi itu justru sudah meninggal duluan!
Dalam Al-Qur’an, kata ”yatim” disebut 23 kali. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memuliakan anak yatim. Tidak heran bagi sebagian besar orang yang memiliki hajat, cita-cita, atau sekedar merayakan ulang tahun, selalu mengundang anak-anak yatim. Bahkan Aburizal Bakrie, ketika berlaga untuk memperebutkan kursi Ketua Umum Partai Golkar menyantuni 1500 anak yatim piatu di Riau. Terbukti akhirnya Ical, panggilan akrab Aburizal Bakrie berhasil memenangkan kompetisi tersebut.
Bila kita saat ini sedang dirundung duka, kesempitan rezeki, hutang yang menumpuk, kesulitan hidup, tidak ada salahnya kita menggunakan lisan-lisan anak yatim sebagai jalan kita untuk meraih pertolongan Allah SWT. Datanglah ke yayasan mereka, atau undanglah mereka datang ke rumah kita. Insya Allah segala permasalahan kita bisa diselesaikan melalui perantara doa mereka. Wallahu’alam.

Muhammad Zulkifli

Oktober 29, 2009

’Jalan lain’ keluar dari kemiskinan

Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.” Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan, dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan (QS.89: 16-20)
Seringkali seseorang ketika dihimpit kesempitan rezeki, banyak hutang dan banyak tuntutan kebutuhan yang mendesak, menganggap ibadahnya sudah maksimal sehingga berhak mendapatkan pertolongan Allah. Sholat sudah tepat waktu, dhuha didawamkan, sedekah rutin, bahkan sampai puasa Senin-Kamis segala. Namun ketika ia mendapati dirinya masih diselimuti kesempitan ekonomi, hutang yang bukannya berkurang tapi malah nambah, serta kesulitan dalam mencari rezeki tambahan, cenderung mulai meragukan kekuasaan dan inayah dari Allah SWT. Muncullah prasangka-prasangka negatif terhadap Allah, seperti Allah tidak peduli kepadanya, Allah tidak menepati janjiNya, Allah tidak mau menolongnya, dan yang lebih parah lagi kalau ia sampai menganggap bahwa Allah telah menghinanya!
Kehidupan ini berputar, kadang banyak uang, tak jarang banyak hutang. Kadang lapang, kadang sempit. Kadang mengejar-ngejar orang yang punya hutang, kadang juga dikejar-kejar orang yang berpiutang. Seandainya hidup kita lapang terus, barangkali kita tidak pernah merasakan kepasrahan total kepada Allah, dan mungkin kita terlena oleh keberlimpahan itu sendiri. Dan sebaliknya, kalau hidup terus menerus sempit, bisa jadi lama-lama akan mengganggu konsentrasi ibadah kita, dan produktivitas yang seharusnya bisa diarahakan untuk perbaikan umat malah habis untuk memikirkan bagaimana menyambung hidup esok hari. Begitulah sunatullah yang berlaku, sehingga Allah melapangkan rezeki dan menyempitkan rezeki kita di lain waktu, agar kondisi apapun yang kita terima bisa mempertahankan, bahkan meningkatkan kualitas keimanan kepada Allah.
Bagi yang sedang sempit rezekinya, ada baiknya merenungi surat Al-Fajr di atas. Ternyata ada alasan lain kenapa Allah SWT tetap ‘awet’ mempertahankan kondisi kita yang serba kekurangan. Sedikitnya ada empat alasan yang membuat kita tetap ’setia’ dengan kemelaratan. Yang pertama adalah karena kita tidak memuliakan anak yatim. Sungguh berat memuliakan anak yatim ini. Caranya bukan sekedar bersedekah rutin tiap bulan untuk kehidupannya, tapi juga memperlakukan mereka sama seperti memperlakukan anaknya sendiri. Anak yatim secara psikologis jelas berbeda dengan anak yang masih memiliki orang tua yang lengkap. Prasyarat memelihara anak yatim pun tidak enteng, sebagai contoh kita dilarang menghardik, membentak, dan berprilaku kasar. Ada seorang ibu-ibu yang mengasuh anak yatim di rumahnya, seringkali ia harus ”makan ati” dengan prilaku mereka, baik itu hobinya yang suka pergi tanpa pamit, suka berbohong, tidak mampu mengemban tanggung jawab sekecil apapun, padahal beliau sudah berusaha memperlakukan anak tersebut setara dengan anak kandungya, baik secara materi maupun psikologis. Ibu ini takut memarahi anak asuhannya itu, sebab agama melarangnya. Dan inilah tantangan terberat dari memuliakan anak yatim. Bila saat ini kita sedang memelihara anak yatim di rumah, silahkan intropeksi diri. Barangkali terlalu banyak prilaku kasar kita kepada mereka sehingga inilah yang menyebabkan rezeki kita masih terbatas dan sempit.
Yang kedua adalah tidak saling mengajak untuk memberi makan orang miskin. Seringkali orang yang mengalami kesempitan rezeki mencoba bersedekah sebagai jalan keluar dari permasalahnnya. Ini sangat bagus sekali. Dan lebih bagus lagi kalau ia juga mengajak orang lain untuk bersedekah. Bersedekah secara jamaah, barangkali itu kalimat yang paling tepat. Kalau kita hobi menyumbangkan uang kita per bulan ke yayasan zakat, mengapa kita tidak mengajak juga orang lain untuk ikut berpartisipasi? Banyaknya bencana alam yang menyebabkan angka kemiskinan bertambah juga merupakan sarana kita untuk mengajak orang lain beramal, khususnya memberi makan orang miskin. Jika kita hanya menikmati aktivitas bersedekah dan beramal sendirian saja, jangan salahkan Allah SWT kalau rezeki kita masih seret.
Ketiga adalah memakan harta warisan dengan mencampurbaurkan. Kalau kita berasal dari keluarga yang kaya raya, kemudian orang tua mewariskan harta tersebut pada kita dan harus dibagi rata dengan saudara-saudara yang lain, maka kita harus segera meng-screening warisan kita, benarkah tidak ada hak orang lain yang ada di situ? Jika ada, lebih baik segera kita kembalikan agar harta tersebut tidak menghalangi rezeki kita.
Terakhir adalah kita terlalu mencintai harta secara berlebihan. Barangkali sebelumnya kita pernah punya mobil mewah dan gara-gara mobil itu kita jarang sholat di masjid karena takut digores orang. Atau kita pernah punya Blackberry yang membuat kita lalai dari sholat tepat waktu. Bisa jadi juga kita pernah memiliki perusahaan yang sudah cukup menghasilkan namun bisnis tersebut malah menjauhi kita dari sholat berjamaah. Penyakit cinta dunia adalah penyakit kronis yang sangat mempengaruhi deras atau keringnya aliran rezeki kita.
Keempat hal ini adalah merupakan ’jalan lain’ buat kita untuk meraih kelapangan rezeki. Wallahu’alam.

Muhammad Zulkifli

Oktober 28, 2009

Bencana Alam dan Nahyi Mungkar

Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (QS. Hud: 116)
Bangsa kita sudah akrab dengan bencana. Mulai dari gunung meletus, gempa bumi, banjir besar, tsunami, kebakaran hutan atau bahkan kedatangan Miyabi! Bencana alam yang menimpa negeri kita saat ini disikapi dengan beragam pendapat. Yang paling umum adalah bencana ini dianggap sebagai teguran dari Allah SWT terhadap makluk2nya yang lalai.
Mengapa kita selalu dirudung bencana? Prasyarat apa yang harus dipenuhi suatu kaum/bangsa agar bencana itu datang menghampiri? Benarkah bencana itu datang karena di suatu negeri itu terdapat banyak golongan yang ingkar, dan tidak ada satu pun orang yang ”baik-baik” ?
Sebenarnya negeri ini ditimpa bencana bukan karena tidak adanya orang-orang yang sholeh, melainkan karena banyaknya orang-orang sholeh yang memiliki kelebihan/keutamaan tetapi tidak ada yang mencegah kemungkaran. Inilah penyebab yang bisa kita lihat dari ayat di atas.
Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang diselamatkan Allah adalah mereka yang memiliki keutamaan dan mencegah kemungkaran masyarakatnya. Dan jumlahnya sangat sedikit. Makanya Allah bertanya: mengapa tidak ada?
Jika seseorang yang memiliki keutamaan, baik itu kekuasaan, ilmu, pengaruh sosial, intelektual yang tinggi, kekuatan fisik yang tangguh, tidak mampu mencegah suatu kemungkaran yang ada di depan matanya, sementara sebenarnya ia mampu, maka prasyarat turunnya bencana sudah terpenuhi. Tidak heran bila kita ingin mempengaruhi seseorang atau mencegah kemungkaran maka kita harus memiliki keutamaan. Seorang pelajar yang sholeh yang pernah menjuarai Olimpiade Sains tingkat nasional, ketika menasehati temannya yang tidak pernah sholat tentu lebih masuk ketimbang kalau pelajar tersebut tidak punya prestasi apa-apa. Seorang Gubernur atau kepala daerah tentu mempunyai kekuasaan untuk menutup tempat-tempat prostitusi ketimbang aktivis dakwah yang tidak memiliki jabatan apapun di pemerintahan. Seorang ahli beladiri yang berhasil menaklukkan penjahat dan menasehatinya untuk bertaubat lebih ”kena” ketimbang korban kejahatan yang menasehati perampoknya.
Dari surah Hud (11) terdapat banyak sekali hikmah tentang mengapa kaum para Nabiyullah menolak dakwah utusan Allah tersebut. Misalnya kaum Nabi Nuh yang menolak dakwah beliau karena pengikutnya Nabi Nuh adalah orang-orang yang lebih rendah status sosialnya, yang mudah percaya, dan Nabi Nuh sendiri dianggap tidak memiliki kelebihan apapun (ayat 27). Nabi Syuaib ditolak oleh kaumnya karena beliau dianggap adalah orang yang lemah di antara mereka dan dianggap tidak punya wibawa (ayat 91).
Intinya adalah keutamaan. Siapapun yang memiliki keutamaan bisa mencegah sebuah kemungkaran dalam skala apapun. Jika tidak melakukannya, maka bencana hanya menunggu waktu. Wallahu’alam.

Muhammad Zulkifli